Tidak hanya sekadar menyerahkan, Bapak Nursalim datang mengantarkan sendiri motor tersebut sebelum apel dimulai sekaligus sebagai pembina apel milad Muhammadiyah ke 113 di Perguruan Muhammadiyah Lasem. Aksi itu langsung menjadi sorotan para peserta apel — mulai dari siswa, guru, hingga jajaran persyarikatan — karena menunjukkan teladan nyata dalam berinfak dan berwakaf.
Usai memberikan amanat apel, beliau menyerahkan kunci motor kepada perwakilan PDA Rembang dan diterima oleh Ibu Nanik Hamidah sebagai perwakilan PDA di SD Aisyiyah Multilingual Lasem. Banyak yang tak dapat menyembunyikan rasa haru mereka atas ketulusan tersebut.
Namun kejutan belum selesai. Setelah apel berakhir, Bapak Nursalim dengan santai memilih untuk pulang berjalan kaki, meski sejumlah guru dan panitia telah menawarkan tumpangan. Sikap itu mengejutkan sekaligus menginspirasi banyak orang. Menurut beliau, berjalan kaki adalah bagian dari rasa syukur dan bentuk rendah hati setelah dapat berwakaf.
“Saya hanya ingin memberi contoh bahwa harta itu titipan. Kalau untuk perjuangan, jangan ragu untuk melepas,” ujar beliau singkat ketika ditanya oleh salah satu panitia.
Aksi sederhana namun penuh makna itu segera menjadi perbincangan hangat di kalangan warga Muhammadiyah Lasem. Banyak yang mengapresiasi keteladanan beliau, terlebih di momentum Milad Muhammadiyah ke-113 yang mengangkat semangat gerakan pencerahan.
Dengan wakaf sepeda motor tersebut, PDA Rembang berharap dapat semakin maksimal dalam menjalankan program dakwah, pelayanan masyarakat dan pemberdayaan perempuan di Lasem.
Peristiwa inspiratif ini meneguhkan kembali nilai-nilai utama Muhammadiyah: ketulusan, pengabdian, dan kesediaan berkorban untuk kemajuan umat. Sebuah keteladanan nyata yang akan dikenang lama oleh warga persyarikatan.
Sudahkan anda berwakaf untuk hari ini? Panitia Pembangunan SD Aisyiyah Multilingual Lasem siap menerima wakaf Bapak Ibu dalam bentuk tunai maupun non tunai. (Admin)


Tidak ada komentar: